Home Resonansi Tulisanku Untuk Anak Cucuku Nanti

Tulisanku Untuk Anak Cucuku Nanti

380
0

Muh Turizal Husein
Dosen Tetap Perbankan Syariah UMT Indonesia
______________

“Siapa membaca akan mengetahui, dan siapa menulis tak akan mati. Menulislah dari sekarang. Jangan menunggu engkau jadi apa nanti”.

Aktivitas menulis merupakan pengalihan dari aktivitas berpikir. Pengalihan ide yang dituangkan dalam rangkaian kata untuk disampaikan kepada pembacanya. Mengapa menulis adalah aktivitas berpikir ? Karena ketika apa yang sedang kita pikirkan hal-hal kebaikan maka hasil tulisan akan baik. Namun sebaliknya ketika apa yang kita pikirkan merupakan hal-hal  keburukan maka hasilnya pun akan mengikuti alur pikiran tersebut. Untuk bisa menuangkan setiap ide, kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan bukan hal yang mudah. Akan tetapi tidak juga sulit, perlu adanya kemauan dan latihan untuk bisa terampil menulis.

Imam al-Ghazali mengatakan “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Pesan yang disampaikan Imam al-Ghazali ini tentu bukan pesan biasa, tetapi jauh dari itu, ia memberikan motivasi yang jauh lebih dalam kepada kita untuk membudayakan menulis. Dengan menulis kita dapat menuangkan ide-ide yang ada di kepala ke dalam sebuah tulisan. Dengan menulis kita akan tahu siapa sebenarnya diri kita ini. Ketika yang kita tulis bukan potret diri kita sebenarnya, maka kita sendiri yang akan mengoreksi dan menghapusnya. Ketika baru berlajar menulis jangan pernah berfikir seberapa kacau susunan bahasamu, seberapa rancu pemilihan diksimu, yang terpenting mulai lah dulu. Bukankah untuk telaten, orang harus mulai latihan. Pepatah Jepang mengatakan Jika kamu kalah pinter, maka kamu harus lebih sregep dan telaten.

Tidak hanya manusia saja yang sulit memulai. Air conditioner pun sangat berat untuk memulai pekerjaan. Dalam teori otak-atik listrik, ia harus menaikkan arus listrik sampai dua kali lipat dari arus normalnya, sehingga untuk memulai ia memerlukan peralatan bantu untuk memperkecil rintangan. Motor lisitrik memiliki variable malas. Malas bukan variable yang tidak bisa diperbaiki. Manusia memiliki sinyal hati yang bisa memperbaikinya. Tanpa memulai tidak aka nada hasil akhir.

Menulis itu buah dari rasa dan apa yang kita rasakan. Jangan menulis tentang nikmatnya cita rasa teh hijau, jika engkau tidak pernah merasakannya. Jangan menulis tentang bahagianya bangun pagi, jika engkau bahkan terlalu sering bangun kesiangan. Jangan juga menulis tentang indahnya padi saat mulai menguning, jika engkau enggan turun kesawah karena takut terkena lumpur. Bahkan saat ini kau tak perlu menulis tentang covid-19 dan kebijakan pemerintah, jika kau lebih suka nonton Doraemon daripada nonton liputan enam sore dan membaca artikel.

Saya teringat pesan sang Maha Guru. Mulailah belajar menulis dalam satu hari satu tulisan, minimal dua sampai tiga paragraph satu hari. Maka dalam jangka waktu tiga bulan akan menjadi sebuah buku. Ini tentu bukan hal sepele. Old habit yang suka menunda-nunda dan malas untuk menuangkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan sulit untuk ditinggalkan. Namun semenjak adanya pandemic covid-19. old habit yang selalu menghantui jalan pikiran ini secara perlahan mulai mengubah segalanya. Aktivitas menulis telah memberi semangat baru dalam menghadapi masa pandemic yang sedang kita hadapai saat ini.

Membuka lebar-lebar ruang literasi dan human skill bagi setiap orang terutama bagi para pendidik bukan kewajaran, tetapi ini merupakan kewajiban. Memasuki era generasi millennial sekarang ini, segala sesuatu yang berkenaan dengan literasi harus kita kuasai. Kreatifitas menulis harus kita mulai dan kuasai jika tidak ingin menjadi penonton abadi di atas kesuksesan orang lain. Tidak ada yang salah apabila kita turut merayakan kesusksesan orang lain, tetapi akan jauh lebih baik jika setelah kita merayakan kesusksesan orang lain kita akan  merayakan kemenangan kita sendiri. Kesusksesan tidak datang secara tiba-tiba. Kesuksesan hanya dapat diraih melalui jalan panjang dan itu semua tentu tidak mudah. Untuk meraih semuanya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, dibutuhkan orang yang konsisten dan memiliki kedisiplinan tinggi.

Ada sebuah pertanyaan. Apakah Manfaat menulis hanya untuk dirasakan dimasa tua? Orang yang baru memulai berarti belum bisa mendapatkan manfaatnya saat ini, karena belum ada tulisan di masa mudanya?

Orang-orang yang selalu berfikir kreatif dan aktif akan berusaha mencari jalan keluar untuk tidak terjebak di dalam pusaran masalah yang sedang dihadapi, sedangkan mereka yang selalu berfikir pasif dan cendrung fatalis hanya pasrah menunggu keajaiban, berharap masalah yang sedang dihadapi berakhir dengan sendirinya. Kreatif dan aktif dalam menulis adalah wadah yang sangat baik untuk kita bisa intropeksi diri, mendewasakan diri, memahami lebih jauh siapa diri ini. Kreatifitas menulis juga mengajarkan kita lebih peka dengan keadaan sekitar, terlebih dengan perasaan orang lain, dan tentunya dengan perasaan kita sendiri.

Jadi jika menulis adalah cara mudah mengabadikan diri, dan cara asyik untuk membuat jejak rekam pribadi. Kenapa kita tidak memulai. Sekali lagi jangan takut salah. Belajar mendaki gunung sesekali kita akan tergelincir bahkan terluka, jika satu kali luka dan takut untuk mendaki lagi, jangan pernah berharap suatu saat kita akan berada di puncak Himalaya. Kita telah banyak membaca cerita tentang orang-orang hebat yang mahir dalam menulis, dan karya mereka sering tidak disetujui bahkan ditolak untuk diterbitkan. Film IT atau The Dark Toweryang diilhami dari dua novel bestseller Stephen King sempat ditolak sebanyak 30 kali oleh penerbit dan bahkan sempat dibuang ke tempat sampah oleh King karena ia membenci cerita yang ia buat. Namun berkat kegigihan dan kesungguhannya pada tahun 2017, film tersebut berhasil menyedot banyak penonton dan meraup keuntungan ratusan juta dollar Amerika . Di tahun yang sama Novel Harry Potter yang ditulis J.K Rowling dan menjadi novel sihir paling melegenda sepanjang masa, bahkan sudah diterjemahkan ke dalam 72 bahasa ini pernah ditolak oleh penerbit telah berhasil merubah kehidupannya yang tadinya hanya menulis buku anak-anak di sebuah kafe kecil.

Cerita inspiratif kedua penulis tersebut tidak hanya dimiliki oleh orang-orang barat saja. Di tanah air kita juga memiliki penulis-penulis potensial yang tidak kalah hebatnya dengan kedua penulis yang saya sebutkan sebelumnya. Sebut saja Asma Nadia, penulis “Surga yang Tak Dirindukan” dan “Jilbab Traveler”, karyanya juga sering ditolak oleh penerbit dan majalah, tetapi dalam kamus pribadinya tidak ada kata menyerah, ia terus menulis dan tidak pernah menyerah. Kemudian ada juga Akmal Nasery Basral memutuskan menjadi penulis penuh sejak tahun 2010. Sebelumnya ia adalah seorang wartawan. Karya-karya fenomenal hasil tulisannnya adalah Nagabonar, Sang Pencerah, Buya Hamka Setangkai Pena di Taman Pujangga dan beberapa karya lainnya. Sebelum menjadi penulis terkenal seperti sekarang ini, tulisan-tulisan yang ia hasilkan dahulu banyak mengalami penolakan oleh penerbit.

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Saat ini pena sudah ada di tangan , mampukah kita membuat sejarah hari ini, untuk dikenang anak cucuk kita nanti ? Hanya lembaran kertas  yang bisa menjawabnya.

__________

Juli. 2.2020

Previous articleTuntunan Ibadah Sesuai Tarjih
Next articleHIP dan Jasa Jasa Muhammadiyah

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.