Kultum Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Dr. Eko Sudarmanto,MM
Tema : Pentingnya Pemimpin dalam islam
Surat Al-Baqarah Ayat 30
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Jamaáh Sholat Dzuhur yang berbahagia,
Alhamdulillah kita telah memiliki presiden dan wakil presiden Baru setelah pelatikan di hari Ahad 20 oktober 2024 Pkl. 10.00 yakni Presiden Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto dan wakil Presiden K. P. H. Gibran Rakabuming Raka, B.Sc. kita berharap dengan kepemimpinan yang baru ini Indonesia semakin Kuat, Maju dan sejahtera.
Kepempinan adalah salah satu aspek yang dianggap sangat penting dalam Islam. Hal ini bisa dilihat dari begitu banyaknya ayat dan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang membahas tentang ini. Hal ini bisa dimengerti. Karena pemimpin merupakan salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan suatu masyarakat.
Hadits Nabi berikut ini sebagai salah satu bukti begitu seriusnya Islam memandang persoalan kepemimpinan ini. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ
“Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah).
Hadits ini secara jelas memberikan gambaran betapa Islam sangat memandang penting persoalan memilih pemimpin. Hadits ini memperlihatkan bagaimana dalam sebuah kelompok Muslim yang sangat sedikit (kecil) pun, Nabi memerintahkan seorang Muslim agar memilih dan mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.
Kisah pembaiatan Abu Bakar di Saqifah Bani Saidah sesaat pasca wafatnya Rasulullah adalah bukti lain betapa pentingnya arti kepemimpinan ini dalam Islam. Saat jasad Nabi yang belum lagi dimakamkan, para sahabat lebih mendahulukan memilih khalifah pengganti Nabi daripada menyelenggarakan jenazah beliau yang agung dan mulia.
Tipologi pemimpin yang mempunyai jiwa kepemimpinan adalah dapat kita perhatikan dalam beberapa hal pokok:
Pertama, seorang pemimpin harus memiliki kesamaan antara ucapan dan perbuatannya, kesamaan antara nasihat dan kebijakan-kebijakannya. Allah sangat tidak menyukai kepada tipologi manusia yang suka berbicara namun tidak ada hasil kerja dari yang diucapkannya, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an surat ash-Shaff ayat ke-61:
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Lalu yang kedua, Ia mampu menepati janji.
Ketahuilah oleh kita sekalian bahwa karakter kepemimpinan senantiasa menepati janji ini merupakan perwujudan iman yang kuat dan budi pekerti yang agung, dan sikap yang luhur dan terpuji, sehingga dapat melahirkan kepercayaan dan penghormatan Masyarakat kepadanya.
Kepemimpinan dalam Islam harus mampu mencontoh kepemimpinan yang pernah ditampilkan oleh Rasulullah Saw., beliau berhasil menampilkan dan menerapkan manajemen kepemimpinan yang paripurna. Beliau menerapkankan dan mengedepankan teori kepemimpinan dengan berdasar kepada nilai-nilai shiddiq, tabligh, amanah dan fathanah.
Allah berfirman dalam surat al-Anfal ayat ke-8:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Apabila nilai amanah ini tidak direalisasikan, maka akan berdampak buruk terhadap tananan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sehingga Rasulullah Saw., menekankan dalam petikan khutbah pada setiap khutbahnya dengan kalimat:
لَا إِيْمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِيْنَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهْ
Tidak beriman orang yang tidak dapat menjaga amanah dan tidak beragama orang yang tidak menepati janji. (HR. Ahmad)
Pandangan Islam selanjutnya, pemimpin berkarakter kepemimpunan yang ideal adalah harus memenuhi unsur-unsur pokok yakni karakter dasar, yang terdiri dari mementingkan kepentingan orang lain (tidak egois), jujur dan disiplin. Kemudian karakter unggul dalam kepemimpinan, yakni ikhlas, sabar mampu merealisasikan nilai-nilai kesyukuran, bertanggungjawab, rela berkorban, mampu memperbaiki diri dan bersungguh-sungguh.
Semoga Bermanfaat
Nashrun min Allah wa Fathun Qoriib
Wabasyiril Mu’minin
Wassalamuálaikum Wr. Wb.
Daftar Pustaka
https://hidayatullah.com/none/2016/03/22/91574/fiqh-kepemimpinan.html
https://bdkpalembang.kemenag.go.id/artikel/kepemimpinan-dalam-perpektif-islam