Home Kolom Milad 109 th Muhammadiyah, 60 th Menyinari Tangerang

Milad 109 th Muhammadiyah, 60 th Menyinari Tangerang

951
0
Milad 109 th Muhammadiyah, 60 th Menyinari Tangerang
Milad 109 th Muhammadiyah, 60 th Menyinari Tangerang

Oleh : Sarli Amri, MA

Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Tangerang

Hari ini, Senin 20 Agustus 2018 Persyarikatan Muhammadiyah memasuki milad ke 109 tahun dalam hitungan hijriyah. Sejak berdiri pada 08 Dzulhijjah 1330 Hijriyah, kini 08 Dzulhijjah 1439 hijriyah maka 109 tahun sudah sang Surya tak henti menyinari negeri.

Perkumpulan Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H atau bertepatan dengan 18 Nopember 1912 M berpusat di Kauman Yogyakarta.[1] Dalam perjalanan dakwahnya, pergerakan dakwah Muhammadiyah sejak tahun 1958 sebagai titik awal masuk di Tangerang hingga sekarang terus berkembang, 60 tahun sudah melebihi setengah abad Muhammadiyah berkiprah di Kota Kota Tangerang (1960-2018).[2]

Kota Tangerang adalah sebuah wilayah yang terletak di Provinsi Banten, tepat di sebelah barat dari Ibu Kota Jakarta, dengan luas wilayah 164.54 km2 (63.53 mil²) atau sekitar 18.378 Ha (termasuk Kawasan Bandara International  Soekarno Hatta 1.969 Ha), dikelilingi oleh Kabupaten Tangerang di sebelah selatan, barat, dan timur. Tangerang merupakan kota terbesar di Provinsi Banten serta ketiga terbesar di kawasan perkotaan Jabotabek setelah Jakarta. Jumlah penduduk berdasarkan sensus Badan Pusat Statisti (BPS) Kota Tangerang tahun 2016 sebanyak 2.093.706 jiwa jumlah kepadatan penduduk Kota Tangerang.[3]

Keberadaan dan aktifitas Muhammadiyah sejak didirikan pada tahun 1912 sampai tahun 1923 tidak dapat dipisahkan dari peran langsung KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri organisasi ini. Pada 20 bulan pertama sejak didirikan, Muhammadiyah masih berjuang untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah Hindia Belanda. Walaupun begitu, Muhammadiyah yang dipimpin KH. Ahmad Dahlan tetap melakukan berbagai kegiatan sosial keagamaan.[4]

Perkumpulan Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H atau bertepatan dengan 18 Nopember 1912 M berpusat di Kauman Yogyakarta.[5] Maksud dan tujuannya ialah untuk menegakan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.[6] Usaha untuk mencapai maksud dan tujuan itu ialah dengan : a) Memperteguh iman, menggembirakan dan memperkuat ibadah serta mempetinggi akhlak, b) Mempergiat dan memperdalam pendidikan ilmu agama Islam untuk mendapatkan kemurniannya, c) Memajukan dan memperbaharui pendidikan, pengajaran dan kebudayaan serta memperluas ilmu pengetahuan menurut tuntunan Islam, d) Mempergiat dan menggembirakan dakwah Islam serta amar makruf nahi munkar, e) Mendirikan, menggembirakan, dan memelihara tempat-tempat ibadah dan wakaf, f) Membimbing kaum wanita ke kesadaran beragama dan berorganisasi, g) Membimbing pemuda-pemuda supaya menjadi orang Islam yang berarti, h) Membimbing ke arah perbaikan kehidupan dan penghidupan yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, i) Menggerakan dan menghidup suburkan amal tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, j)Menanam kesadaran agar tuntunan dan peraturan Islam berlaku dalam masyarakat.[7]

Pergerakan dakwah Muhammadiyah sejak tahun 1960-an sebagai titik awal masuk di Tangerang hingga sekarang terus berkembang, maka sudah setengah abad lebih Muhammadiyah berkiprah di Kota Kota Tangerang. 60 tahun (1960-2018)[8] bukanlah perjalanan usia yang singkat, Muhammadiyah Kota Tangerang melaju dengan tingkat tantangan yang sangat bervariasi, dari teror tokoh-tokoh masyarakat yang memprovokasi umat hingga lemparan telor busuk ke ruangan tempat dimana warga Muhammadiyah sedang mengaji, dan lain sebagainya.

Muhammadiyah di Kota Tangerang dahulu untuk pertama kalinya didakwahkan oleh seorang ulama bijak, bernama Ustadz Karim. Pada tahun itu, ditahun 1960-an,[9] model kajian keislaman dan penyampaian dakwah yang dibawakannya senatiasa menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Ustadz Karim hadir sebagai dai dan mubaligh Islam yang sangat cocok terhadap situasi dan kondisi keislaman pada zamannya. Dengan kemampuan bahasa Arabnya yang bagus, begitupun dalam suara dan tulisan, cakap dalam beretorika dakwah, serta  jika ditanya apapun dapat mengetahui jawabannya. Secara general, di tahun 1960-an, kondisi umat Islam di Kota Tangerang  secara umum masih sangat konservatif, kental dengan budaya animisme yang masuk kedalam aqidah Islam yang benar. Ditambah dengan maraknya praktek keagamaan  umat Islam yang tercampur unsur syirik, bid’ah dan khurafat. Dengan realitas sosio-spriritual yang demikian, maka kehadiran Ustadz Karim hadir dengan membawa semangat purifikasi dan dinamisasi Islam ke paham keagamaan yang benar. Al-Quran dan As-Sunnah merupakan acuan dasar dalam setiap gerak dakwah disetiap mengisi pengajian-pengajian yang disampaikan.[10]

Cikal bakal awal masuknya Muhammadiyah di kota Tangerang, dapat diketahui setidaknya dari 2 (dua) arah yakni timur dan barat.[11] Untuk timur, penyebaran dakwah Muhammadiyah dibawakan langsung oleh Ustadz Karim, yang kehadirannya dikawal oleh angkatan muda Muhammadiyah bernama Hafadz. Sedangkan yang tergolong tua adalah Amin, Khuwailid, Damsir, Sukari, H. Muit M. Noor dan H. Hasyim. Umumnya didakwahkan oleh para orang-orang yang berlatar belakang guru, baik muda ataupun tua, serta memiliki semangat yang militan.[12]

Sedangkan  dari arah barat, yaitu Tangerang kota oleh H. M. Rais Abbas (tentara) dengan membawa Kyai-kyai diantaranya adalah Sharaf (Ki Sorof) dan Dzhulhaq. Kedua Kyai inilah yang senantiasa mendampingi dan mengikuti H. Rais Abbas.[13] Pada tahun 1963 kemudian Ranting Petir Resmi didirikan dengan Cabangnya tetap Tangerang dengan ketua Cabangnya H. Rais Abbas. Saat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM kota Tangerang) terbentuk maka ada beberapa yang semula ranting kemudian berubah menjadi Cabang, diantaranya Cabang Ciledug, Cipondoh, Tangerang dan Cikupa. Sedangkan yang memimpin pelantikan dilantik langsung oleh Pimpinan Pusat (PP Muhammadiyah) yang dikawal oleh KH. Syakir dan Projokusumo.[14]  Jika dipetakan di bagian paling timur terdapat Cabang Ciledug, paling barat terdapat Cabang Cikupa, paling utara Cabang Teluk Naga, sedangkan di selatan tidak ada Cabang yang ada hanya sebuah ranting yaitu Ranting Kademangan.[15]

 Jika di akumulasi jumlah amal usaha Muhammadiyah yang dimiliki oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Tangerang hingga tahun 2014 adalah berjumlah 49 buah amal usaha Muhammadiyah yaitu : Taman Kanak-kanak/ TK ABA : 4, Sekolah Dasar/ SD : 7, Sekolah Menengah Pertama/ SMP : 5, Sekolah Menengah Atas/ SMA/ SMU : 5, Sekolah Menengah Keguruan/ SMK : 2, Universitas : 1, Koperasi : 2, Masjid : 23, Rumah Bersalin : 1, maka total 49 amal usaha Muhammadiyah.[16]

Seiring berjalanya waktu, Pada tanggal 1 Juni 1993 STIE Muhammadiyah Tangerang didirikan yang merupakan salah satu amal usaha milik Persyarikatan Muhammadiyah di bawah naungan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Muhammadiyah berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta No.1.A/SK/B/1992 tertanggal 10 November 1992. Menyusul pula berdirinya STAI Muhammadiyah Tangerang tahun 2000, kemudian berdiri pula STIKES Muhammadiyah Tangerang tahun 2004. Ketiga amal usaha Muhammadiyah terseut di bawah naungan dan milik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tangerang.

Baca Juga: Daerah Butuh Pemuda Cerdas Macam Pemuda Muhamadiyah

Dengan seiring tuntutan zaman yang semakin kompetitif, maka Musyawarah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tangerang periode 2005-2010 merekomendasikan pendirian Universitas Muhammadiyah Tangerang, dengan gagasan yang telah dipertimbangkan secara matang bahwa landasan Amal Usaha Muhammadiyah di Kota Tangerang memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Selain terdapat kesepakatan dari ketiga pimpinan Sekolah Tinggi Muhammadiyah yang telah ada untuk bergabung dalam mendirikan Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT). Ketiga lembaga tersebut ialah STIEM, STAI, dan STIKES Muhammadiyah, setelah melalui proses yang panjang akhirnya terdapat kesepakatan untuk mendirikan UMT.[17]

Selain amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan seperti di atas, Muhammadiyah kota Tangerang pun mengemban misi dakwah dengan keyakinannya berjuang menegakkan dan menyiarkan agama Islam, sehingga berhasil dalam menanamkan jiwa dan amalan agama yang bersih dan lurus. Dengan pengajian dan tabligh-tablighnya Muhammadiyah selalu menekankan agar menegakkan Islam yang benar, jangan sampai dirusak oleh berbagai macam bid’ah,[18] khurafat, dan bahaya syirik.

Di masa lalu, apa yang dilakukan Muhammadiyah ini dikecam keras sebagai agama baru, pembaruan sosial yang dilakukan Muhammadiyah telah berhasil mentradisikan pengelolaan fungsi sosial dan ekonomi ritual ibadah secara terorganisasi, rasional, obyektif dan modern. Kini kegiatan itu sudah menjadi tradisi keagamaan yang dilakukan oleh semua orang tidak terbatas pengikut Muhammadiyah.

Muhammadiyah turut serta mewarnai kultur masyarakat kota Tangerang baik dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun keagamaan. Sejarah mencatat bahwa kehadiran Muhammadiyah ternyata tak lepas dari kontribusi yang diperankannya terhadap perkembangan kota Tangerang, khususnya dalam bidang pendidikan dan keagamaan.


[1] Musthafa Kamal Pasha dan Ahamd Adaby Darban, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam, (Yogyakarta : Pustaka SM, 2009), cet. II, hlm. 97. Jika Tahun 2018 M dihitung dalam hitungan tahun Masehi maka kini Muhammadiyah telah memasuki usia 106 tahun, yakni satu abad enam  tahun.

[2] Ahmad Amarullah, Materi Musyawarah IV Muhammadiyah Kota Tangerang, (Tangerang  : PDM Kota Tangerang, 2010), hlm. 14. Sedangkan untuk jumlah Cabang yang dimiliki oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Tangerang hingga tahun 2012 adalah berjumlah 10 Cabang dari 13 Kecamatan yang ada di Kota Tangerang, yaitu : Tangerang ; 1962, Cipondoh ; 1985, Ciledug ; 1958, Karawaci ; 1990, Pinang ; 2006, Batu Ceper ; 2006, Cibodas ; 2002, Jatiuwung ; 1985, Larangan dan Karang Tengah 2012.

[3] https://tangerangkota.bps.go.id/dynamictable/2018/03/26/96/jumlah-penduduk-kota-tangerang-2005-2016.html

[4] Haedar Nashir, Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, (Yogyakarta : Suara  Muhammadiyah, 2010).

[5] Musthafa Kamal Pasha dan Ahamd Adaby Darban, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam, (Yogyakarta : Pustaka SM, 2009), cet. II, hlm. 97. Jika Tahun 2014 M dihitung dalam hitungan tahun Hijriah (1330 H s.d 1435 H) maka kini Muhammadiyah telah memasuki usia 105 tahun, yakni satu abad lima tahun.

[6] Haedar Nashir, Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, (Yogyakarta : Suara Muhammadiyah, 2010), cet. I, hlm. 346.

[7] Junus Salam, KH. Ahmad Dahlan; Amal dan Perjuangannya (Jakarta : Alwasath, 2009), hlm. 103-104. Dan lihat pula Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Mutiara Sumber Widya, 1995), hlm. 268-269.

[8] Ahmad Amarullah, Materi Musyawarah IV Muhammadiyah Kota Tangerang, (Tangerang  : PDM Kota Tangerang, 2010), hlm. 14

[9] Wawancara dengan tokoh Cabang Muhammadiyah tertua yang kelak menjadi pelopor periode awal perintisan Muhammadiyah Kota Tangerang, yaitu Cabang Muhammadiyah Ciledug; HM. Sholeh (14/01/2014) dan Ahmad Namin (22/01/2014), Cabang Muhammadiyah Cipondoh; HM. Naisan, M.Hum (09/02/2014) dan HM. Nasir (22/03/2014), dan Cabang Muhammadiyah Tangerang; Dr. H. Achmad Badawi (19/09/2014).

[10] Beberapa literatur yang menjadi buku bacaan yang gemar dibaca dan dijadikan rujukan oleh Ustadz Karim diantaranya adalah kitab Fathur Rahman, Mu’jam Al-Mufahras Li Al-Fadzil Quran, serta beberapa referensi yang lebih dominan dari Persis seperti Risalah Al-Fatihah dan Pedoman Shalat yang dikarang oleh A. Hasan, wawancara HM. Nashir (22/03/2014).

[11] Sumber ini diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan HM. Nashir (22/03/2014) di kediaman beliau. Beliau adalah ketua PDM yang paling lama mengemban masa amanah sebagai ketua PDM, lebih dari 4 periode. Semasa aktif beliau pernah bertugas sebagai guru PGA serta pernah menjabat sebagai Kepala MTs Negeri, yang saat itu hanya satu-satunya di Tangerang, hingga memimpin 125 madrasah sampai dengan ujung Serang.

[12] Sedangkan untuk pusat pendidikan mulai TK  didirikan dilingkungan H. Tafsir yang kelak kini menjadi pusat perguruan Muhammadiyah Cabang Ciledug. Untuk aktifitas dakwah dibagunlah langgar (mushalah) diatas tanah wakaf dari Gadel bin Berin yang kini menjadi masjid Al-Manar PCM Ciledug. Terdapat bebarapa tokoh lain diantaranya H. Nahdi, Narim, H. Bangga, H. Hasyim, Asmad dan H. Amin. Selanjutnya Hafadz kemudian membawa Ustadz Karim kepada beberapa rekannya, diantaranya, Muhasan, Nurhalim (Petir), H. Asad, H. Taqiyudin (Petir). Merekalah yang membawa Ustadz Karim ke Petir, Cipondoh, Poris dan Gondrong. Lalu kehadiran Muhammadiyah diterima oleh M. Tuni (Kepsek SD), Ahmad, H. Mursid, serta Lurah Nisin.

[13] Semangat H. Rais Abbas dalam mensyiarkan dakwah Muhammadiyah didorong oleh beberapa referensi buku yang membuatnya tergugah, diantaranya buku Kembali Kepada Al-Quran dan Hadits, Kelengkapan Tarikh Muhammad saw dan 4 Serangkai 4 Imam Madzhab. Yang ketiga buku tersebut dikarang oleh Munawar Chalil, dan umumnya angkatan pertama Muhammadiyah di kota Tangerang membaca buku-buku tersebut hingga hatam, wawancara dengan HM. Nashir (22/03/2014).

[14] Projokusumo beliau menjabat sebagai Komandan Kokam dan pernah menjabat sebagai Majelis Pendidikan. Dan pada saat pelantikan H. Rais Abbas beliau datang bertiga.

[15] Karena dahulu pimpinan daerah Muhammadiyah Tangerang sangat luas wilayahnya, maka terjadilah pembagian daerah Muhammadiyah pada periode HM. Nasir. Kota Tangerang diketuai oleh HM. Nasir, sedangkan Kabupaten Tangerang diketuai oleh H. Hadjid Hardawidagna.

[16] Ahmad Amarullah, Materi Musyawarah IV Muhammadiyah Kota Tangerang, (Tangerang  : PDM Kota Tangerang, 2010).

[17] https://www.umt.ac.id/id/about/history, 20/08/2018.

[18] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mendefinisikan bid’ah dalam Islam adalah segala yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yakni yang tidak diperintahkan baik dalam wujud perintah wajibatau berbentuk anjuran. Bid’ah adalah yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, atau ijma’ para ulama as-Salaf berupa ibadah maupun keyakinan, Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Mengupas Sunnah Membedah Bid’ah (Terj. Nurus Sunnah wa Zhulumatul Bid’ah fi Dhauil Kitab wa Sunnah), (Jakarta : Darul Haq, 2007), cet. V, hlm.36. Lihat pula Ali Mahfudz, Kupas Tuntas Bid’ah (Terj. Al-Ibda’ fi Madhar Al-Ibtida’), (Jakarta : Putaka Al-Kautsar, 2009), cet. II, hlm. 21-26.

Previous articleMerawat Amalan Ramadhan pasca Ramadhan
Next articleWali Band akan semarakkan Milad 106 Muhammadiyah Kota Tangerang

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.