Kultum Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Muhammad Fadillah
Tema : Kisah Sufi : Keadilan Allah SWT, berbeda dengan apa yang kita Inginkan.
Surat An-Nisa’ Ayat 3
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya
Surat An-Nahl Ayat 90
۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran
Alkisah pada suatu siang Nasruddin Hoja sedang duduk termenung di bawah pohon rindang. Tak lama berselang, ia melihat ada tiga orang yang melintas sedang berselisih. Nasruddin pun menegur sapa pada mereka.
“Ada masalah apa kalian?” kata Nasruddin. Salah satu dari mereka menjawab, “Kami sedang bingung bagaimana cara membagi upah dari berkerja di kebun kurma ini untuk kami bertiga,” katanya sambil menyodorkan beberapa uang.
Kemudian Nasruddin menjadi hakim dan membagi uang tersebut, dengan mengatakan: “Oh begini caranya. Kalian mau memakai cara manusia atau cara Tuhan?” ia tersenyum. Mereka menjawab spontan, “Cara Tuhan,” nyaris berbarengan.
Lalu Nasruddin membagikan upah tersebut kepada mereka dengan seadil-adilnya, ia memberikan setengah upah kepada orang pertama. Nasruddin memberikan upah seperempat kepada orang kedua. Kemudian, ia tidak memberikan apapun kepada orang yang terakhir.
Tentu saja raut muka orang terakhir tersebut muram. Ia pun memprotes, “Ini tidak adil!” Nasruddin hanya melempar senyum.
“Pembagian macam apa ini? Tidak adil!” lontar kekesalan bocah yang terakhir lagi. Dua orang yang lain juga heran dan terperangah memandang Nasruddin.
Nasruddin tersenyum kemudian berkata, “Begini, inilah cara Tuhan. Kalau kalian membaginya sama rata atau sama jumlah, itu berarti kalian menggunakan cara manusia. Apa yang kulakukan barusan adalah sebagaimana cara Tuhan memberi kita. Dia Yang Maha Pemberi (al-Wahhāb) memberi seseorang sesuai kadar orangnya. Ada yang diberi banyak, ada yang diberi sedikit, dan ada yang diberi sangat sedikit. Bahkan, ada juga yang tidak diberi sama sekali.” Sambil mencerna penjelasan Nasruddin, ketiga orang tersebut mengangguk-angguk.
Misteri Pemberian
Kisah tersebut menyingkapkan misteri pemberian yang sering kita salah pahami. Sebagaimana yang dilakukan Nasruddin, Allah Yang Mahapemberi (al-Wahhāb) memang tidak pernah pilih kasih untuk memberi, baik bagi hambanya yang meminta maupun yang tidak. Tolok ukur pemberian-Nya pun tidak bisa harus dipatok untuk sama rata. Dia memberikan sesuatu kepada hamba-Nya sesuai dengan kadar kepentingan dan takaran keperluan si hamba.
Sudah sepatutnya kita tidak mengeluh karena mendapatkan bagian yang lebih sedikit ketimbang orang lain. Justru itu harus tetap disyukuri karena Allah sungguh yang paling tahu keadaan dan keperluan kita.
Allah senantiasa mengijabahi doa-doa kita, tapi Allah punya otoritas untuk menangguhkan sampai kapan doa dan permintaan kita tersebut akan diwujudkan atau diberikan, dan bahkan mungkin tidak diberikan. Nah, dalam keadaan tersebut, “tidak diberi Allah” itu sendiri merupakan satu bentuk “pemberian dari Allah”. Hanya saja kita acap tidak memahami hal ini karena tolok ukur pemberian Allah kita samakan dengan tolok ukur keseharian kita sebagai manusia.
Terakhir yang perlu kita soroti, bahwa kita kerap menerapkan “pembagian cara manusia” (sebagaimana tersirat dari kisah Nasruddin dan tiga orang tersebut), yang ternyata tidak menutup kemungkinan merupakan ekspresi dari kerakusan nafsu kita. Keinginan kita akan sesuatu yang lebih hanyalah rintihan ego kotor kita.
Memang benar ketika kita mendapat lebih sedikit ketimbang orang lain, maka akan terasa pahit. Kepahitan tersebut adalah nafsu kerakusan kita. Oleh karenanya kita tidak boleh rakus demi memanjakan nafsu atas sekecil dan sesedikit apa pun pemberian Allah. Bahkan ketika kita mendapatkan nihil atau tak mendapatkan apa pun, itu juga termasuk satu bentuk pemberian Allah. Mensyukuri segalanya adalah benar dan menjadi lebih baik untuk perkembangan kepribadian spiritual kita.
Semoga bermanfaat
Nashrun minallah wafathun Qoriib
Wabasyiril Mu’minin
Wassalamu’alaikum Wr Wb