Home Kultum 4 (Empat) Cara mengatasi rasa Malas Ibadah (Futur) Hingga menjadi semangat,meningkat...

4 (Empat) Cara mengatasi rasa Malas Ibadah (Futur) Hingga menjadi semangat,meningkat dan meriah surga Allah SWT.

1859
0


Kultum Dzuhur Disampaikan oleh Ustadz Ahmad Sarif,M.Pd.

Tema : 4 (Empat) Cara mengatasi rasa Malas Ibadah (Futur) Hingga menjadi semangat,meningkat dan meriah surga Allah SWT.


الإيمان يزيد وينقص

Iman itu mengalami fluktuasi, naik-bertambah dan turun-berkurang,kadang kuat kadang lemah.

Salah satu fitrah manusia terasa jenuh,timbul rasa malas, hadirnya rasa bosan. Baik dalam beribadah maupun dalam bekerja. Ini semua wajar dan jiwa rasa malas menghinggapi segera untuk mencari solusi.


Setiap manusia bisa jadi jenuh bekerja,bosan kuliah, monoton dalam aktivitas rutin sehingga timbul rasa malas dalam diri.

Ada juga yang jenuh dalam beribadah, jenuh dengan sholat sehingga malas kemasjid, malas baca Qur’an, malas puasa Sunnah, maka ini yang disebut futur. Apa itu futur ?

FUTUR adalah kondisi ketika iman seorang hamba menurun. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, maka iman bisa berada dalam titik terendahnya.

Dalam sabda Rosulallah SAW yakni :
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ثُمَّ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى بِدْعَةٍ فَقَدْ ضَلَّ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ فَقَدِ اهْتَدَى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (HR. Ahmad)

Nabi menginformasikan dalam sunnahnya baha setiap amal ada masa semangat dan ada masa malasnya, ketika masa semangat menggelora lakukan amal yang disunnahkan. Seperti dibulan Romadhon kemarin yang jarang kemasjid, mereka sholat lima waktu berjama’ah di masjid dengan shaf paling depan, yang awalnya jarang baca Qur’an baca Qur’an bahkan khatam dengan cepat yang jarang shodaqoh, maka bershodaqoh yang banyak dan sebagainya.

Berikut ada 4 (empat) cara atau tips menghindari sifat malas beribadah (Futur) :

1. Memvariasi Amal Ibadah,
Supaya dalam beribadah tidak dengan amalan monoton, maka lakukan ibadah dengan cara yang berbeda-beda tetapi dalam koridor syariat Islam, contohnya : biasa kita membaca Qur’an sesekali kita pindah baca buku Islami, Biasa kita ikut Kajian Fiqih maka kita cari kajian shiroh Nabawi, biasa kita shodaqoh dengan harta bisa kita Shodaqoh dengan tenaga dan lain sebagainya.

2. Meminta nasihat kepada para ulama
ketika kita punya penyakit jasmani baik itu gangguan jantung, ginjal, paru-paru kita datang ke dokter untuk dapat diobati, maka Ketika kita terkena penyakit rohani yakni malas ibadah datanglah kepada ulama untuk dikuatkan keimanannya sehingga kembali bersemangat ghiroh dalam beribadah.

3. Mengungkap kembali keutamaan beramal dan beribadah

Kita harus mengimani nash-nash al-Wa’du (janji yang baik, Surga) dan al-Wa’id (ancaman , tentang siksaan Neraka).

kita harus juga ada amal, dengan keutamaan khusus bagi yang melaksanakan ibadah dan ancaman bagi yang meninggalkannya. Misalnya keutamaan Sholat berjamaah di Masjid setiap langkah kemasjid dihitung pahala, dihapuskan dosanya serta diangkat derajatnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim, no. 666)

Orang yang berada didalam Masjid sampai tiba waktu sholat berikutnya maka malaikat akan memohonkan ampun kepada Allah SWT untuk orang tersebut.
Malaikat akan mendoakan orang yang menunggu shalat di masjid

“Tidaklah seseorang di antara kalian duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, melainkan para Malaikat akan mendo’akannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’” (HR. Muslim)

Senantiasa mendapat pahala shalat selama waktu ia menunggu waktu shalat
Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh malaikat akan mendoakan seorang dari kalian selama ia berada di tempat shalatnya: “Ya Allah, ampuni dia, ya Allah, sayangi dia.” Seseorang senantiasa (dianggap) berada dalam shalat bila shalatlah yang menahannya (tetap di masjid). Tidak ada yang menghalanginya pulang ke rumah kecuali (menunggu) shalat (berikutnya).” (HR. Al-Bukhari)

Pahala shalat berjamaah dibanding shalat sendirian adalah 27 derajat, lebih utama shalat berjamaah.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam mengakhirkan shalat Isya sampai tengah malam. Kemudian beliau menghadap kami setelah shalat, lalu bersabda,

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650)


4. Menjaga rutinitas amal
Dalam kaidah islam bukan saja banyaknya amal yang jadi prioritas tapi kualitas amal rutin yang terus-menerus dilakukan Istiqomah inilah yang terbaik.

Jangan sampai kita ghulub atau berlebihan dalam ibadah seperti bulan Ramadhan kemarin semuanya ibadah serba instan membaca Qur’an khatam sehari, tarawih getol lebih dahulu seminggu di shaf depan, Minggu kedua dishaf ketiga, Minggu keempat di terminal. Maka ini yang tidak baik, sebagaimana dalam sebuah hadist seorang wanita berlebihan dalam beribadahnya dan nabi melarangnya.

Diterangkan pula dalam satu riwayat bahwa suatu ketika Rasulullah masuk ke masjid. Ia melihat ada tali memanjang yang diikat antara dua tiang. Rasulullah melihatnya dengan heran. Lalu bertanya kepada para sahabat yang kebetulan ada di sana, “Tali apakah kiranya ini?” Orang-orang menjawab, “Milik Zainab binti Jahsy ra.”

Rasulullah saw. bertanya, “Untuk apakah dia merentangkan tali seperti itu?” Orang-orang menjawab, “Jika ia merasa lelah dalam mengerjakan shalat, maka dia menggantung pada tali itu. ” Rasulullah kemudian menyuruh untuk melepaskan tali itu. “Jangan, lepaskan tali itu. Hendaknya di antara kalian shalat sesuai dengan kemampuan saja. Jika lelah dan tidak mampu berdiri, bisa shalat dengan duduk.” (HR. Bukhari).

Dalam kesempatan lain, Nabi menjelaskan, “Ketahuilah, amal yang paling dicintai Allah SWT adalah yang terus menerus, meski sedikit.”


Mudah-mudahan iman kita terjaga dan stabil serta Istiqomah di bulan Syawal dan dibulan-bulan yang akan datang
Semoga bermanfaat
Nashrun minallah wafathun Qoriib
Wabasyiril Mu’minin
Wassalamu’alaikum Wr Wb.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.